Wanita yang berpikir akan mampu mengubah padang pasir menjadi kebun yang indah.

Senin, 12 November 2012

Sistem Imun dan Nutrisi Pangan


Sistem imun merupakan suatu usaha atau mekanisme yang dilakukan oleh tubuh dalam mengeliminasi benda asing yang berpotensi bahaya terhadap tubuh. Benda asing yang dimaksud dapat berupa sel kanker, sel tumor, maupun agen penginfeksi seperti cacing, fungi, protozoa, bakteri, dan virus. Meskipun sistem imun memiliki kemampuan untuk melawan berbagai invasi dari benda asing tersebut, namun kerja dari sistem imun sendiri sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah zat gizi.
Zat gizi memiliki kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan sistem imun. Muis (2001) menyatakan bahwa zat gizi mikro memiliki peranan penting dalam proses imunologi, sehingga adanya defisiensi zat gizi mikro akan berpengaruh terhadap respon imun. Sistem imun juga memerlukan antioksidan yang dapat berperan dalam produksi serta menjaga keseimbangan sel imun (hematopoises). Dengan kata lain, tubuh memerlukan nutrisi penting dalam jumlah yang cukup agar sistem imun dapat bekerja secara optimal. Berdasarkan kajian Wolfers, Danielle AW et. al. dalam jurnal yang berjudul “Effect of a mixture of micronutrients, but not of bovine colostrum concentrate, on immune function parameters in healthy volunteers: a randomized placebo-controlled study” menyatakan bahwa komponen-komponen makanan yang memiliki efek terhadap sistem imun diantaranya adalah vitamin C, vitamin E, beta karoten, zink, dan kolostrum. Jurnal ini mengkaji lebih lanjut mengenai efek bovine colostrum concentrate dan campuran mikronutrien (vitamin C, vitamin E, dan beta-karoten) terhadap sistem imun. Dalam jurnal hasil kajian Wolfers, Danielle AW et. al. tersebut  dikatakan bahwa beberapa studi menyatakan vitamin C dapat meningkatkan fungsi sel imun yang berperan dalam proses fagositosis, neutrophil kemotaksis, dan proliferasi sel limfosit. Vitamin E dapat merespon produksi antibody terhadap hepatitis-B dan tetanus, beta-karoten dapat meningkatkan aktivitas dari sel NK dan produksi TNF-α. Sedangkan kolostrum mengandung laktoferin, lactoperoksidase, lisozim, cytokine, dan Imunoglobulin, terutama IgG, yang dapat mengikat dan menetralisir pathogen dalam usus. Berbagai parameter sistem imun diamati di dalam jurnal penelitian ini, diantaranya ialah lymphocyte proliferation, lymphocyte subset distribution, phagocytosis, delayed-type hypersensitivity (DTH) responses, response to tetanus and (oral) typhoid vaccination, dan oksidative burst.  Hasil menunjukkan bahwa dosis harian rendah dari bovine colostrum concentrate tidak meningkatkan parameter imunitas pada partisipan sehat sedangkan suplementasi vitamin E, vitamin C, beta-karoten, dan zink memberikan efek positif terhadap DTH-reponse, khususnya pada partisipan yang usianya lebih tua.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa parameter sistem imun yang disebutkan dalam jurnal hasil kajian Wolfers, Danielle AW et. al. yaitu, sel limfosit, sel fagosit, respon DTH memiliki fungsi-fungsi khusus di dalam tubuh, khususnya dalam melawan invasi benda-benda asing yang berpotensi berbahaya bagi tubuh. Sel limfosit terdiri dari dua jenis, yaitu limfosit B dan Limfosit T. Limfosit B berfungsi untuk menghasilkan antibody (Ab) untuk melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh. Dimana, antigen merupakan molekul atau partikel asing berupa protein pada tubuh yang dapat menginduksi respon imun. Limfosit T berfungsi menghasilkan cytokine yang merupakan regulator dari sel imun. Sedangkan sel fagosit berfungsi untuk melakukan fagositosis, yaitu menelan benda asing baik berupa bakteri ataupun virus. Kerja dari sel imun tersebut sangat penting untuk mempertahankan tubuh dari invasi benda asing dan kerjanya sangat dipengaruhi oleh komponen nutrisi dalam bahan pangan.
Hasil penelitian lain yang menunjukkan peranan komponen bahan pangan terhadap sistem imun ditunjukkan dari hasil kajian Fuente, Monica de la et.al.  dalam jurnal yang berjudul “Vitamin E ingestion improves several immune functions in elderly men and women”. Dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa penurunan fungsi sistem imun atau  immunosenescence memberikan kontribusi yang signifikan terhadap serangan kanker dan penyakit menular pada orang tua. Antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, dan beta-karoten memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya kerusakan oksidatif. Dimana kerusakan tersbut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi oksidan dan antioksidan yang berdampak pada terjadinya stress oksidative. Ketidakseimbangan tersebut muncul karena adanya radikal bebas yang memiliki potensi yang sangat tinggi dalam merusak fungsi biologis dan berkontribusi terhadap proses immunosenescence atau penuaan. Vitamin E merupakan antioksidan larut lemak yang penting dalam mencegah terjadinya peroksidasi lipid pada jaringan tubuh.
Fuente, Monica de la et.al. dalam jurnalnya menyatakan bahwa berdasarkan berdasarkan beberapa studi, kekurangan konsumsi vitamin E dapat menyebabkan ganggungan fungsi sel imun dan supplementasi vitamin E pada lansia dapat meningkatkan fungsi dari sel T. Sebagaimana diketahui bahwa sel T berperan dalam imunitas seluler dengan mendestruksi langsung benda asing melalui mekanisme non-fagositosis. Dalam jurnal ini dikaji lebih lanjut mengenai efek vitamin E terhadap kemampuan menempel sel limfosit pada endothelium, dimana kemampuan menempel suatu sel limfosit pada endothelium merupakan salah satu faktor penting dalam mekanismennya melawan invasi bakteri, selain itu dikaji juga mengenai kemampuan kemotaksis dari sel limfosit, proliferasi sel limfosit, produksi interleukin-2, kemampuan fagositosis dan menempel pada endotelium dari neutrophil, dan kemampuan sel Natural Killer (NK) dalam melawan sel tumor.
Fuente, Monica de la et.al. dalam jurnalnya memaparkan bahwa suplementasi vitamin E selama tiga bulan pada lansia baik yang berjenis kelamin pria maupun wanita memberikan peningkatan yang signifikan terhadap beberapa fungsi sel limfosit, neutrophil, dan sel NK. Age-related immune dysfunction banyak terjadi pada lansia yang mengakibatkan mereka sangat rentan terhadap serangan kanker dan penyakit menular lainnya. Proses penuaan dapat menurunkan aktivitas dari sel imun, diantaranya adalah adanya penurunan produksi interleukin-2 oleh limfosit T, kemampuan kemotaksis dari sel limfosit dan kemampuan fagositosis juga ditemukan menurun pada lansia. Namun, hal tersebut dapat dicegah bahkan diatasi dengan suplementasi antioksidan. Pemberian antioksidan seperti vitamin E pada lansia selama tiga bulan menunjukkan adanya peningkatan fungsi sel imun, diantaranya meningkatnya kemampuan proliferasi, produksi interleukin-2, dan kemampuan menempel pada endothelium dari sel limfosit. Kemampuan fagositosis dan kemotaksis dari sel neutrophil juga meningkat karena adanya suplementasi dari vitamin E. Meningkatnya respon sistem imun tersebut dapat mencegah bahkan mengatasi kanker maupun penyakit menular. Sehingga Fuente, Monica de la et.al. dalam jurnalnya menyatakan bahwa suplementasi vitamin E pada lansia dapat meningkatkan respon sistem imun yang ditunjukkan oleh aktivitas dari sel limfosit, sel NK dan nautrofil.
Berdasarkan pemaparan dari kedua jurnal diatas diketahui bahwa komponen-komponen yang terdapat di dalah bahan pangan, khususnya komponen mikro dan antioksidan lainnya memiliki peranan yang penting di dalam menjaga dan memelihara sistem imun. Dimana, sistem imun dapat bekerja secara optimal jika asupan tubuh akan nutrisi-nutrisi penting dapat tercukupi. Konsumsi dari zat gizi tersebut dapat menjadi regulator bagi sel imun sehingga fungsi-fungsi fisiologis tubuh tidak terganggu dan terpelihara dengan baik.



Sumber:
Danielle AW Wolvers, Wendy MR van Herpen-Broekmans, Margot HGM Logman, Reggy PJ van der Wielen and Ruud Albers. 2006. Effect of a mixture of micronutrients, but not of bovine colostrum concentrate, on immune function parameters in healthy volunteers: a randomized placebo-controlled study. Nutrition Journal 2006, 5:28.

Monica de la fuente, Angel Ernanz, Noelia Guayerbas, Victor Manuel Victor, and Francisco Arnalich. 2007. “Vitamin E ingestion improves several immune functions in elderly men and women”. Free Radical Research, March 2008; 42(3): 272_280

Tidak ada komentar:

Posting Komentar