Wanita yang berpikir akan mampu mengubah padang pasir menjadi kebun yang indah.

Senin, 12 November 2012

Peranan Dinding Sel Bakteri (Gram Positif)


Dinding sel bakteri gram positif terdiri atas 90% lapisan peptidoglikan sedangkan lapisan tipis lainnya merupakan asam theikoat. Asam theikoat ini tersusuna atas unit-unit gliserol atau sorbitol yang saling berikatan oleh ester fosfat. Asam teikoat ini bermuatan negative sehingga mempengaruhi muatan pada permukaan sel. Karena komponen dari dinding sel, yaitu asam teikoat ini bermuatan negative maka dapat dikatakan bahwa dinding sel untuk bakteri gram positif bermuatan negatif
Bakteri tergolong ke dalam prokariot, yaitu mikroorganisme yang tidak memiliki inti sel. Berdasarkan struktur dinding selnya bakteri dibedakan atas dua, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif memiliki komponen peptidoglikan yang lebih tebal dibandingkan bakteri gram negatif. Secara umum, fungsi dari dinding sel bakteri adalah memberi bentuk tertentu pada sel, melindungi sel, mengatur pertukaran zat-zat kimia, dan berperan pada proses pembelahan sel.
 Salah satu fungsi dinding sel sebagai pelindung terhadap sel dapat dilihat pada jurnal penelitian mengenai “Induction of Interleukin-12 by Lactobacillus Strains Having a Rigid Cell Wall Resistant to Intracellular Digestion”. Pada jurnal ini dijelaskan bahwa hanya Strain Lactobacillus yang resisten terhadap pencernaan intraselular dengan struktur dinding sel rigid yang mampu menginduksi Interleukin-12. Interleukin-12 berperan untuk meningkatkan imunitas sel. Pada jurnal tersebut dijelaskan mengapa bakteri Lactobacillus strain Shirota dapat sampai ke saluran pencernaan dan mampu menginduksi Interleukin-12. Bakteri Lactobacillus strain Shirota mampu mencapai usus dan menginduksi Interleukin-12 disebabkan karena peranan dari dinding sel bakteri tersebut. Untuk dapat menginduksi Interleukin-12, dinding sel bakteri Lactobacillus strain Shirota harus utuh ketika mencapai saluran pencernaan.  Dinding sel bakteri Lactobacillus memiliki komponen peptidoglikan sebagai komponen utamanya, polisakarida yang berikatan kovalen dengan peptidoglikan, dan lipoteichoic acid. Oleh karena komponen dari dinding sel tersebut, maka bakteri Lactobacillus strain Shirota dapat sampai ke saluran pencernaan dengan dinding sel yang utuh. Hal tersebut disebabkan komponen polisakarida yang terdapat pada dinding sel melindungi peptidoglikan dari serangan enzim-enzim percernaan sehingga sel dan dinding selnya tetap utuh pada saluran pencernaan sehingga mampu menginduksi Interleukin-12.
 Fungsi lain dari dinding sel pada bakteri Lactobacillus dapat dilihat pada jurnal penelitian mengenai “Cell wall modifications during osmotic stress in Lactobacillus casei”. Pada jurnal ini dijelaskan mengenai bagaimana bakteri Lactobacillus casei dapat tumbuh pada kondisi garam tinggi. Lactobacillus merupakan bakteri yang sering digunakan pada fermentasi makanan. Seringkali, dalam lingkungannya bakteri ini dihadapkan pada kondisi salt stress. Pada kondisi tersebut bakteri memiliki kemampuan untuk merespon kondisi tersebut dengan cara mengubah rantai polimer pada dinding sel mereka. Bakteri jenis ini memiliki dinding sel yang resisten terhadap enzim hidrolisis seperti lyzozime atau mutanolysin. Lactobacillus casei  dapat bertahan pada kondisi salt stress disebabkan karena peranan dari dinding sel bakteri tersebut. Pada dinding sel bakteri Lactobacillus casei mengandung komponen peptidoglikan yang tinggi karena termasuk bakteri gram positif. Pada kondisi salt stress, bakteri Lactobacillus casei akan melakukan polimerisasi pada dinding selnya, yaitu polimerisasi peptidoglikan. Polimerisasi peptidoglikan meliputi adisi disakarida subunit pentapeptida menjadi rantai glycan oleh glycosyltransferase. Pada jurnal ini, Lacatobacillus ditumbuhkan pada media dengan kondisi garam tinggi dan pada media normal. Hasilnya diketahui bahwa pada media dengan konsentrasi garam tinggi bakteri Lactobacillus casei dapat tumbuh dengan struktur sel yang lebih besar dari struktur normalnya dan modifikasi pada dinding selnya. Dinding sel Lactobacillus casei yang  ditumbuhkan pada konsentrasi garam tinggi dipisahkan oleh membrane sitoplasmik yang mengindikasikan adanya plasmolisis. Meskipun Lactobacillus casei  dapat tumbuh pada kondisi salt stress, terdapat peningkatan sensitifitas terhadap lysis oleh hidrolase. Sebagaimana diketahui bahwa, Lactobacillus casei resisten terhadap lysis oleh hidrolase akibat adanya gugus O-acetyl pada peptidoglikan, namun pada kondisi salt stress terjadi penurunan jumlah gugus O-acetyl akibat cross linking peptidoglikan. 

Sumber:
1.  Induction of Interleukin-12 by Lactobacillus Strains Having a Rigid Cell Wall Resistant to Intracellular Digestion by Shida, K Kiyoshima-Shibata, J; Nagaoka, M; Watanabe, K; Nanno, M. Journal of Dairy Science89. 9 (Sep 2006): 3306-3317
2.    Cell wall modifications during osmotic stress in Lactobacillus casei by M. Piuri, C. Sanchez-Rivas and S.M. Ruzal. Departamento de Quı´mica Biolo´gica, Facultad Ciencias Exactas y Naturales, Universidad de Buenos Aires, Ciudad Universitaria,Buenos Aires, Argentina. Journal of Applied Microbiology 2005, 98, 84–95.
3.    Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar