Dinding sel bakteri gram positif terdiri atas 90% lapisan peptidoglikan
sedangkan lapisan tipis lainnya merupakan asam theikoat. Asam theikoat ini
tersusuna atas unit-unit gliserol
atau sorbitol yang saling berikatan oleh ester fosfat. Asam teikoat ini
bermuatan negative sehingga mempengaruhi muatan pada permukaan sel. Karena
komponen dari dinding sel, yaitu asam teikoat ini bermuatan negative maka dapat
dikatakan bahwa dinding sel untuk bakteri gram positif bermuatan negatif
Bakteri tergolong ke dalam prokariot, yaitu mikroorganisme
yang tidak memiliki inti sel. Berdasarkan struktur dinding selnya bakteri
dibedakan atas dua, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Bakteri gram positif memiliki komponen peptidoglikan yang lebih tebal
dibandingkan bakteri gram negatif. Secara umum, fungsi dari dinding sel bakteri
adalah memberi bentuk tertentu pada sel, melindungi sel, mengatur pertukaran
zat-zat kimia, dan berperan pada proses pembelahan sel.
Salah satu fungsi
dinding sel sebagai pelindung terhadap sel dapat dilihat pada jurnal penelitian
mengenai “Induction of Interleukin-12 by
Lactobacillus Strains Having a Rigid Cell Wall Resistant to Intracellular
Digestion”. Pada jurnal ini dijelaskan bahwa hanya Strain Lactobacillus
yang resisten terhadap pencernaan intraselular dengan struktur dinding sel rigid
yang mampu menginduksi Interleukin-12. Interleukin-12 berperan untuk
meningkatkan imunitas sel. Pada jurnal tersebut dijelaskan mengapa bakteri Lactobacillus strain Shirota dapat
sampai ke saluran pencernaan dan mampu menginduksi Interleukin-12. Bakteri Lactobacillus strain Shirota mampu
mencapai usus dan menginduksi Interleukin-12 disebabkan karena peranan dari
dinding sel bakteri tersebut. Untuk dapat menginduksi Interleukin-12, dinding
sel bakteri Lactobacillus strain
Shirota harus utuh ketika mencapai saluran pencernaan. Dinding sel bakteri Lactobacillus memiliki komponen peptidoglikan sebagai komponen
utamanya, polisakarida yang berikatan kovalen dengan peptidoglikan, dan lipoteichoic
acid. Oleh karena komponen dari dinding sel tersebut, maka bakteri Lactobacillus strain Shirota dapat
sampai ke saluran pencernaan dengan dinding sel yang utuh. Hal tersebut disebabkan
komponen polisakarida yang terdapat pada dinding sel melindungi peptidoglikan
dari serangan enzim-enzim percernaan sehingga sel dan dinding selnya tetap utuh
pada saluran pencernaan sehingga mampu menginduksi Interleukin-12.
Fungsi lain dari dinding sel pada bakteri Lactobacillus
dapat dilihat pada jurnal penelitian mengenai “Cell wall modifications during osmotic stress in Lactobacillus casei”.
Pada jurnal ini dijelaskan mengenai bagaimana bakteri Lactobacillus casei dapat
tumbuh pada kondisi garam tinggi. Lactobacillus merupakan bakteri yang sering
digunakan pada fermentasi makanan. Seringkali, dalam lingkungannya bakteri ini
dihadapkan pada kondisi salt stress.
Pada kondisi tersebut bakteri memiliki kemampuan untuk merespon kondisi
tersebut dengan cara mengubah rantai polimer pada dinding sel mereka. Bakteri
jenis ini memiliki dinding sel yang resisten terhadap enzim hidrolisis seperti
lyzozime atau mutanolysin. Lactobacillus
casei dapat bertahan pada kondisi salt stress disebabkan karena peranan
dari dinding sel bakteri tersebut. Pada dinding sel bakteri Lactobacillus casei mengandung komponen
peptidoglikan yang tinggi karena termasuk bakteri gram positif. Pada kondisi salt stress, bakteri Lactobacillus casei akan melakukan
polimerisasi pada dinding selnya, yaitu polimerisasi peptidoglikan.
Polimerisasi peptidoglikan meliputi adisi disakarida subunit pentapeptida
menjadi rantai glycan oleh glycosyltransferase. Pada jurnal ini, Lacatobacillus
ditumbuhkan pada media dengan kondisi garam tinggi dan pada media normal. Hasilnya
diketahui bahwa pada media dengan konsentrasi garam tinggi bakteri Lactobacillus casei dapat tumbuh dengan
struktur sel yang lebih besar dari struktur normalnya dan modifikasi pada
dinding selnya. Dinding sel Lactobacillus
casei yang ditumbuhkan pada konsentrasi garam tinggi
dipisahkan oleh membrane sitoplasmik yang mengindikasikan adanya plasmolisis.
Meskipun Lactobacillus casei dapat tumbuh pada kondisi salt stress, terdapat peningkatan sensitifitas terhadap lysis oleh
hidrolase. Sebagaimana diketahui bahwa, Lactobacillus
casei resisten terhadap lysis
oleh hidrolase akibat adanya gugus O-acetyl pada peptidoglikan, namun pada
kondisi salt stress terjadi penurunan
jumlah gugus O-acetyl akibat cross linking peptidoglikan.
Sumber:
Induction of Interleukin-12 by
Lactobacillus Strains Having a Rigid Cell Wall Resistant to Intracellular
DigestionShida, KKiyoshima-Shibata, JNagaoka, MWatanabe, KNanno, MJournal of Dairy Science
89. 9
2.
Cell wall modifications during osmotic
stress in Lactobacillus casei by
M. Piuri, C. Sanchez-Rivas and S.M. Ruzal. Departamento de Quı´mica Biolo´gica,
Facultad Ciencias Exactas y Naturales, Universidad de Buenos Aires, Ciudad
Universitaria,Buenos Aires, Argentina. Journal of Applied Microbiology 2005,
98, 84–95.
3.
Fardiaz,
Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar